Community:Buku Saku Bagian 1

Revision as of 15:43, 9 October 2021 by Humatera (talk | contribs)
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)

Pengenalan

Global Assembly adalah pertemuan orang-orang dari seluruh dunia untuk membicarakan krisis iklim dan ekologi.

Apa yang dimaksud dengan majelis warga?

Majelis warga adalah sekelompok orang dari berbagai lapisan masyarakat, yang berkumpul untuk belajar bersama seputar topik tertentu, merundingkan langkah yang dapat mereka ambil, menyusun proposal kepada pemerintah dan pemimpin, dan menghasilkan ide-ide untuk memicu perubahan yang lebih luas. Anggota dari majelis warga merepresentasikan versi kecil dari tempat yang bersangkutan (misalnya, negara atau kota, atau dalam kasus ini dunia), berdasarkan kriteria demografis seperti jenis kelamin, usia, pendapatan, dan tingkat pendidikan.

Apa yang dimaksud dengan Global Assembly?

Global Assembly 2021 terdiri dari: 100 orang Majelis Warga Inti; Majelis Komunitas lokal yang dapat dikelola oleh siapa saja di mana saja; dan kegiatan kultural yang bertujuan untuk melibatkan lebih banyak orang.

Di akhir tahun ini, akan ada dua konferensi besar para pemimpin dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa: Konferensi Para Partai tentang perubahan iklim (COP 26) dan Konferensi Keanekaragaman Hayati (COP15). Menjelang negosiasi COP tersebut, Majelis Inti mengumpulkan 100 orang, yang merepresentasikan gambaran populasi planet untuk belajar tentang krisis iklim dan ekologi, untuk berunding dan berbagi pesan-pesan utama mereka untuk dipresentasikan saat COP26 di Glasgow pada November 2021. Pada tahun ini, Majelis Global akan membahas pertanyaan berikut: “Bagaimana manusia dapat mengatasi krisis iklim dan ekologi dengan cara yang adil dan efektif?”

Pengenalan pada materi pembelajaran

Buku saku ini adalah bagian dari serangkaian sumberdaya yang akan mendukung tahap pembelajaran dan pengambilan keputusan pada Global Assembly. Tujuan bahan pembelajaran ini adalah menyediakan informasi dan data sehingga Anda dapat membangun opini masing-masing mengenai krisis iklim dan ekologis.

Krisis iklim dan ekologis merupakan sebuah topik yang kompleks dan hasil dari banyak faktor historis, sosial, ekonomi dan politik yang saling terhubung. Meskipun ia terkadang terlihat sebagai sebuah masalah yang sangat modern, akar-akarnya terhubung pada banyak generasi dan setidaknya selama dua abad.

Buku saku ini adalah sebuah mukadimah atas beberapa tema terpenting yang terkait dengan krisis iklim dan ekologis. Untuk menghasilkan bahan-bahan ini, sekelompok panitia ahli-ahli dipertemukan untuk menyumbangkan pengetahuan dan kebijaksanaan mereka. Rincian mengenai proses pernaskahan buku saku ini tersedia pada situs Global Assembly[1].

Banyak sekali cara pandang di dalam krisis iklim dan ekologis dan kami telah melakukan yang terbaik untuk memberikan sebuah cuplikan mengenai tema-tema dominan, fakta dan angka-angka dengan cara yang ringkas dan mudah dibaca.

Tidak ada tekanan untuk membaca keseluruhan bahan ini dalam sekali duduk. Ia ditujukan sebagai sebuah panduan referensi, dan kami berharap ia akan berguna bagi keterlibatan Anda dengan Global Assembly, untuk mendukung pembelajaran dan pengambilan keputusan mengenai krisis iklim dan ekologis.

Melengkapi buku saku ini, sumberdaya lebih lanjut seperti: video, presentasi animasi, karya artistik dan testimoni atas pengalaman langsung akan tersedia pada situs Global Assembly. Penyelarasan buku saku ini beserta terjemahannya dalam beberapa bahasa akan tersedia pada wiki Global Assembly.

Makna lebih rinci dari kata-kata yang bercetak tebal dapat ditemukan di dalam bagian Kosakata pada akhir buku saku. Suhu yang dicantumkan di keseluruhan buku saku diukur dalam derajat Celsius (°C). Silahkan mengacu pada kosakata untuk penerjemahan atas Fahrenheit (°F).

Garis Besar Ringkasan

Seperti apa dunia pada tahun 2050?

Setiap anak yang terlahir hari ini akan menghadapi akibat dari perubahan iklim dan kerusakan alam yang disebabkan oleh manusia. Ia tidak lagi sebuah pertanyaan mengenai ‘jika’, tetapi ‘seberapa besar’. Seberapa besar orang-orang yang hidup hari ini dan generasi-generasi mendatang akan terdampak, bergantung pada apa yang kita lakukan sekarang. Meskipun sejumlah panas bumi dan hilangnya keragaman hayati ‘terkutuk’ bagi masa depan, masih ada waktu untuk membatasi perubahan iklim lebih lanjut dan hilangnya keragaman hayati, dan untuk menghindari dampak yang mungkin lebih buruk dari krisis iklim dan ekologis.

Penyebab krisis iklim dan ekologis ini mengakar pada sejarah, dan dapat terhubung dengan wawasan dunia yang telah membentuk cara bagaimana banyak masyarakat beroperasi hari ini. Manusia adalah bagian dari alam dan sangat bergantung pada alam untuk bertahan hidup.

Perubahan iklim, kepunahan keragaman hayati, kerusakan lahan, dan polusi udara dan air sangat terhubung satu sama lain. Kualitas hidup orang-orang yang tinggal di berbagai bagian di planet dan kemungkinan generasi sekarang dan mendatang, tergantung pada tindakan yang kita ambil hari ini untuk menjawab persoalan-persoalan ini. Beralih pada sistem energi terbarukan, melestarikan dan mengembalikan ekosistem, dan mencari cara baru dan lebih untuk terhubung dengan alam akan menjadi langkah-langkah yang sangat penting di tahun-tahun mendatang. Sebuah survei telah menemukan bahwa mayoritas orang-orang di berbagai belahan dunia mendukung aksi terhadap perubahan iklim, bahkan ketika pandemi COVID-19 terus mempengaruhi kehidupan sehari-hari.

Pokok-pokok utama:

  • Aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil, menyebabkan naiknya suhu bumi. Kenaikan suhu global mempengaruhi iklim dan corak cuaca kita dalam cara yang tidak dapat diubah - tetapi beberapa dampak yang lebih buruk di masa depan dapat dihindari, tergantung pada tindakan yang diambil hari ini.
  • Sebagai buntut dari polusi, perubahan iklim, penghancuran habitat alami dan eksploitasi, satu juta spesies tanaman dan hewan saat ini sedang terancam kepunahan.
  • Perubahan iklim dan kepunahan keragaman hayati mengancam ketersediaan pangan dan air termasuk kesehatan manusia.

Perubahan iklim sebagian besar dimotori oleh berlebihnya gas rumah kaca pada atmosfer kita. Karbon dioksida (CO2), gas rumah kaca terpenting yang diproduksi manusia, diproduksi ketika manusia membakar bahan bakar fosil bagi energi dan transportasi, dan pada saat hutan-hutan diruntuhkan. Pada dua abad terakhir, hal ini telah menaikkan panas planet sebanyak 1.2 derajat Celcius (°C) atau 2.16 derajat Fahrenheit (°F). Para ilmuwan menemukan bahwa pemanasan global 2°C (3.6°F) akan meningkat pada abad 21, kecuali terdapat pengurangan berarti karbon dioksida dan emisi gas rumah kaca lainnya pada dekade-dekade mendatang. Meskipun ia terdengar tidak begitu besar, ia berarti punahnya hidup dan penghidupan beberapa ratus juta orang.

Kenaikan suhu berarti saat ini bumi mengalami gelombang panas yang lebih kuat dan sering, kebakaran hutan dan kegagalan panen. Ia juga berarti perubahan besar atas curah hujan, dengan lebih banyak hujan di beberapa tempat dan lebih sedikit di tempat lain, menjurus pada kekeringan dan banjir.  

Aktivitas manusia di bumi memiliki dampak buruk bagi tanaman, hewan, fungi dan mikroorganisme. Buntut dari polusi, perubahan iklim, penghancuran habitat alami dan eksploitasi, satu juta dari delapan juta spesies tanaman dan hewan di bumi saat ini terancam punah.

Berkurangnya keragaman spesies melemahkan ekosistem, membuatnya menjadi rentan terhadap penyakit, cuaca ekstrim dan kelemahan penyediaan kebutuhan dan kesejahteraan manusia.

  • Tingkat kepunahan keragaman hayati lebih rendah pada lahan yang dikelola oleh masyarakat adat.

Banyak keragaman hayati dunia hidup di atas lahan tradisional dan lahan leluhur masyarakat adat. Kebudayaan masyarakat adat telah berupaya untuk hidup selaras dengan alam selama ribuan tahun, dan memiliki pengetahuan bernilai untuk melestarikan dan mengembalikan ekosistem serta mengelola keragaman hayati. Meskipun demikian, sebuah sejarah panjang penjajahan dan marjinalisasi berarti bahwa banyak dari komunitas ini telah dipaksa atau didesak untuk meninggalkan mata pencaharian dan lahan-lahan leluhur mereka, atau menjadi pengungsi iklim karena bencana alam yang terkait dengan perubahan iklim. Alhasil, kebudayaan-kebudayaan yang unik ini, sistem pengetahuan, bahasa, dan identitas juga terancam.

  • Tidak seluruh negara memiliki tanggung jawab yang sama atas perubahan iklim, negara-negara kaya secara historis menghasilkan lebih banyak gas rumah kaca.

Pembakaran bahan bakar fosil terhubung dengan perkembangan ekonomi. Sebagai hasilnya, negara-negara kaya seperti Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara di Uni Eropa telah menghasilkan jumlah gas rumah kaca terbesar dari waktu ke waktu. Saat ini, tumbuhnya populasi dunia dan negara-negara seperti China dan India mengikuti arah perkembangan yang sama layaknya negara-negara kaya, lebih banyak orang bergantung pada pembakaran bahan bakar fosil setiap tahunnya.

  • Kita tidak akan dapat membatasi panas kurang dari 2°C (3.6°F), kecuali dengan pengurangan emisi gas rumah kaca dengan segera, cepat dan berskala besar. Hal ini akan berdampak besar pada kesejahteraan manusia.

Hidup bersama perubahan iklim berarti hidup bersama ketidakpastian. Salah satu ketidakpastian tersebut adalah gagasan mengenai sebuah ‘titik kritis’. Titik kritis iklim adalah sebuah ‘titik fatal’, ketika gabungan dampak perubahan iklim menghasilkan kerusakan yang tidak dapat diubah, yang akan ‘mengalir’ di seluruh dunia, seperti domino. Saat titik kritis tercapai, serangkaian peristiwa terpicu, menuju penciptaan sebuah planet yang tak dapat didiami oleh banyak orang dan bentuk kehidupan lainnya. Sains tidak dapat memprediksi kepastian ketika sebuah titik kritik tercapai.

  • Pada tahun 2015, para pemimpin dunia bertemu di Paris dan sepakat untuk membatasi pemanasan global hingga di bawah 2°C, idealnya adalah 1.5°C.
  • Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), pemanasan hingga 1.5°C sepertinya akan terjadi pada tahun 2040. Meskipun demikian target 2°C masih sangat bergantung pada emisi CO2 yang dihasilkan di beberapa dekade mendatang.
  • Jika seluruh ikrar negara-negara dunia (disebut dengan ‘kontribusi nasional’) saat ini dalam mengurangi emisi gas rumah kaca terpenuhi - dan kita belum tahu apakah mereka akan memenuhinya - hal tersebut akan berdampak setidaknya 3°C (5.4°F) pemanasan global, meskipun cita-cita persetujuan Paris 2015 untuk membatasi panas bumi hingga jauh di bawah 2°C.
  • Banyak komitmen dari negara-negara miskin pada Persetujuan Paris bisa saja tidak terjadi karena mereka tergantung pada dukungan finansial luar negeri. Sejauh ini, sedikit dukungan internasional yang telah menjadi nyata.

Banyak negara diminta untuk meningkatkan komitmen mereka setiap lima tahun. Sejak Paris, beberapa kemajuan telah tercapai. Meskipun demikian, banyak hal tidak bergerak cukup cepat untuk membatasi pemanasan hingga 1.5°C. Pada rentang terkini, pemanasan akan mencapai 1.5°C pada tahun 2040, atau lebih awal, dan selanjutnya terus bertambah jika tindakan-tindakan tambahan tidak diambil sekarang.

  • Hampir dua per tiga (64 persen) orang-orang di 50 negara di seluruh dunia mempercayai bahwa perubahan iklim adalah sebuah kedaruratan global.
  • Untuk tetap menjaga cita-cita batas panas 1.5°C berada dalam jangkauan, tahun 2020-an harus menjadi dekade pengurangan emisi global yang berarti.

Para pemimpin dunia akan bertemu di Glasgow tahun ini untuk membicarakan apa yang akan dilakukan dengan krisis iklim dan Di China untuk membicarakan krisis ekologis. Begitu penting bagi pemerintah untuk mulai mengakui interaksi antara dua krisis, dan mengembangkan tujuan, sasaran dan tindakan yang secara mutual sesuai.

Kini cita-cita Persetujuan Paris telah dicanangkan, pembicaraan iklim Glasgow harus mengenai penciptaan sebuah peta yang lebih rinci tentang bagaimana mencapai persetujuan tersebut. Beberapa pertimbangan akan memuat bagaimana bersepakat pada pengurangan emisi jangka pendek yang lebih efektif. Sebagai contoh, beranjak dari bahan bakar fosil, meningkatkan penggunaan energi, membatasi deforestasi dan mengubah ikrar-ikrar karbon net-zero menjadi tindakan.

1.Apa itu krisis iklim?

Pada bagian ini, kami mengeksplorasi fenomena yang dikenal sebagai “perubahan iklim”. Apa itu? Apa yang menyebabkannya? Dan mengapa itu mendesak?

Perubahan iklim terkait dengan pemanasan jangka panjang planet ini. Ini terjadi karena sejumlah besar gas rumah kaca dilepaskan ke atmosfer.

Atmosfer adalah lapisan tak terlihat di sekitar Bumi yang mengandung banyak gas yang berbeda. "Gas rumah kaca" adalah kelompok gas tertentu yang dapat mengubah keseimbangan termal atmosfer dan menghangatkan Bumi. Gas rumah kaca utama termasuk karbon dioksida (dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil dan penggundulan hutan), metana dan dinitrogen oksida (keduanya dihasilkan dari energi dan praktik pertanian).

Salah satu cara untuk menggambarkan hubungan antara gas rumah kaca dan suhu adalah dengan membayangkan sebuah ruangan kecil tertutup pada hari yang sangat panas. Matahari yang terik menyinari atap, tetapi di dalam ruangan tidak ada jendela atau pintu untuk keluar dari panas. Karena tidak ada tempat untuk pergi, panas menumpuk di dalam ruangan. Demikian pula, ketika ada terlalu banyak gas rumah kaca di atmosfer, panas berlebih akan tercipta.

Gas rumah kaca utama yang dikeluarkan oleh manusia adalah karbon dioksida (CO2). Aktivitas manusia juga telah menurunkan atau menghancurkan banyak bagian alam yang menghilangkannya dari atmosfer, seperti hutan dan tanah. Sejak orang-orang di negara-negara kaya mulai membakar bahan bakar fosil sekitar 200 tahun yang lalu, suhu permukaan global telah meningkat sebesar 1,2°C (2,16°F) . Meskipun kedengarannya tidak banyak, 20 tahun terakhir telah menjadi periode multi-tahun terpanas dalam lebih dari 100.000 tahun.

Perbedaan suhu yang tampaknya kecil (1,2°C atau 2,16°F) ini telah berdampak luas pada kehidupan banyak orang. Meningkatnya suhu berarti orang sekarang mengalami gelombang panas yang lebih sering dan intens, kebakaran hutan, dan gagal panen. Ini juga berarti perubahan besar pada curah hujan, dengan lebih banyak hujan di beberapa tempat dan lebih sedikit di tempat lain , yang menyebabkan kekeringan dan banjir.

Banjir, kekeringan, gelombang panas, dan angin topan juga terjadi sebelum perubahan iklim, tetapi ilmu iklim memberitahu kita bahwa perubahan iklim membuat "peristiwa cuaca" ekstrem semacam ini lebih memungkinkan atau lebih intens, menempatkan jutaan orang di semua wilayah di dunia dalam risiko kehilangan sumber daya mereka. rumah, terbunuh atau terluka atau tidak memiliki cukup makanan untuk dimakan atau air bersih untuk diminum.

2. Apa itu krisis ekologi?

Apa dampak aktivitas manusia terhadap spesies lain yang ada di planet kita? Di bagian ini kita melihat mengapa keanekaragaman hayati sangat penting bagi kesehatan dan pertumbuhan manusia, dan peran masyarakat adat di seluruh dunia.

Manusia adalah bagian dari jaring kehidupan yang jauh lebih besar daripada spesies kita sendiri. Kesehatan manusia berhubungan erat dengan kesehatan hewan, tumbuhan, dan lingkungan bersama. Sebagai akibat dari bagaimana manusia – khususnya orang-orang di negara-negara terkaya di dunia – berinteraksi dengan alam, beberapa spesies hewan dan tumbuhan menjadi punah. Laju kepunahan jauh lebih cepat hari ini dibandingkan dengan sejarah yang pernah ada.

Keanekaragaman hayati mengacu pada semua jenis kehidupan yang dapat ditemukan di Bumi, seperti tumbuhan, hewan, jamur, dan mikroorganisme. Setiap spesies individu memiliki peran khusus untuk dimainkan dalam kesehatan ekosistem. Namun, sebagai akibat dari polusi, perubahan iklim, spesies asing invasif, perusakan habitat alami dan eksploitasi (seperti penangkapan ikan yang berlebihan), satu juta dari perkiraan delapan juta spesies tumbuhan dan hewan di dunia terancam punah.

Ada banyak alasan untuk ini. Hutan di seluruh dunia adalah rumah bagi sebagian besar spesies pohon, burung, dan hewan yang berbeda di dunia, tetapi setiap tahun petak-petak besar hutan dihancurkan ketika lahan diubah untuk digunakan manusia untuk pertanian, atau kegiatan lainnya..

Sistem pangan/pertanian adalah salah satu pendorong terbesar hilangnya keanekaragaman hayati, dengan pertanian saja menjadi ancaman yang teridentifikasi bagi 24.000 spesies yang berisiko punah. Saat ini seluruh pasokan makanan dunia terutama bergantung pada spesies tumbuhan yang sangat sedikit. Pada abad terakhir, telah ada fokus untuk memproduksi lebih banyak makanan dengan biaya yang lebih rendah dan makin rendah. Produksi pertanian intensif ini telah mengorbankan tanah dan ekosistem Bumi, membuat tanah secara bertahap menjadi kurang subur seiring waktu.

Produksi pangan saat ini sangat bergantung pada pupuk, pestisida, energi, tanah dan air, dan pada praktek-praktek yang tidak berkelanjutan seperti monocropping (bertani hanya satu tanaman secara intensif) dan pengolahan berat (gangguan pada struktur tanah dengan peralatan dan mesin). Ini telah menghancurkan rumah banyak burung, mamalia, serangga dan organisme lain, mengancam atau menghancurkan tempat berkembang biak, mencari makan dan bersarang mereka, dan memadati banyak spesies tanaman asli.

Kurangnya keanekaragaman spesies melemahkan ekosistem dan membuatnya lebih rentan terhadap penyakit dan cuaca ekstrem, serta kurang mampu memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan manusia. Banyak obat penting yang digunakan untuk mengobati penyakit seperti kanker bersifat alami atau produk sintetis yang terinspirasi oleh hal-hal yang ditemukan di alam.

Populasi dunia meningkat dari tahun ke tahun, yang berarti semakin banyak orang akan bergantung pada ekosistem untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Hilangnya keanekaragaman hayati diperkirakan akan semakin cepat dalam beberapa dekade mendatang, kecuali jika tindakan segera dilakukan untuk menghentikan dan membalikkan degradasi ekosistem dan untuk membatasi perubahan iklim. Inilah sebabnya mengapa disebut sebagai krisis.

Peran masyarakat adat dalam melestarikan keanekaragaman hayati

Rata-rata tren hilangnya keanekaragaman hayati tidak terlalu parah di wilayah yang dikuasai atau dikelola oleh masyarakat adat dan komunitas lokal.

Diperkirakan ada lebih dari 370 juta penduduk asli yang tersebar di 70 negara di seluruh dunia. Hidup secara bertanggung jawab dan dalam hubungan timbal balik dan harmoni dengan alam adalah nilai inti dari banyak budaya asli, dan nilai-nilai ini sering kali berbeda dari nilai-nilai masyarakat dominan di mana mereka tinggal.

Tersebar di seluruh dunia dari Kutub Utara hingga Pasifik Selatan, penduduk asli adalah keturunan - menurut definisi umum - dari mereka yang mendiami suatu negara atau wilayah geografis pada saat orang-orang dari budaya atau asal etnis yang berbeda tiba. Pendatang baru kemudian menjadi dominan melalui penaklukan, pendudukan, pemukiman atau cara lain.

Terdiri dari kurang dari 5 persen populasi dunia, masyarakat adat melindungi 80 persen keanekaragaman hayati berbasis lahan. Misalnya, di Cusco, Peru, komunitas orang Quechua saat ini melestarikan lebih dari 1.400 varietas asli salah satu tanaman pokok dunia – kentang . Tanpa perlindungan keanekaragaman spesies ini, banyak dari varietas ini mungkin telah punah selamanya.

Masih banyak spesies tumbuhan, hewan dan serangga yang belum terdokumentasikan atau belum diketahui oleh ilmu pengetahuan. Sebagian besar keanekaragaman hayati ini kemungkinan ada di tanah tradisional dan tanah leluhur masyarakat adat. Budaya asli telah berhasil hidup selaras dengan alam selama ribuan tahun, dan memiliki pengetahuan yang berharga untuk melestarikan dan memulihkan ekosistem serta mengolah keanekaragaman hayati.

Namun di seluruh dunia, masyarakat adat harus meninggalkan mata pencaharian dan tanah leluhur mereka karena kehilangan tanah karena proyek pembangunan skala besar, atau menjadi pengungsi iklim karena bencana terkait perubahan iklim. Misalnya di Alaska, negara bagian AS dengan populasi penduduk asli terbesar, naiknya permukaan laut, dan meningkatnya kebakaran hutan telah memaksa relokasi beberapa komunitas ini .

Karena sejarah marginalisasi dan kolonisasi selama berabad-abad, masyarakat adat hampir tiga kali lebih mungkin hidup dalam kemiskinan ekstrem dibandingkan dengan rekan-rekan non-pribumi mereka. Krisis keanekaragaman hayati juga terkait dengan masa depan budaya, sistem pengetahuan, bahasa, dan identitas yang unik dan beragam ini.

3. Mengapa kita berada dalam krisis iklim dan ekologi?

Pada bagian ini kita akan mengeksplorasi bagaimana beberapa 'pandangan dunia' yang dominan selama berabad-abad yang lalu telah membentuk sikap terhadap alam yang mendasari krisis iklim dan ekologi saat ini.

iklim dan keanekaragaman hayati merupakan masalah yang kompleks dan merupakan hasil dari banyak masalah politik, ekonomi dan sosial yang saling bersinggungan. Salah satu faktor yang mendasari sulitnya menjawab tantangan ini adalah beberapa “pandangan dunia” yang melandasi krisis iklim dan ekologi.

Pandangan dunia sedikit mirip dengan kacamata yang kita gunakan untuk melihat dunia di sekitar kita. Pandangan dunia kita mewakili nilai-nilai inti dan keyakinan kita, dan itu membentuk cara kita berpikir dan apa yang kita harapkan dari dunia. Itu dipengaruhi oleh pengalaman pribadi kita sendiri, kepercayaan dan nilai-nilai yang diturunkan kepada kita dari keluarga dan guru kita, dan kepercayaan serta nilai-nilai budaya tempat kita dibesarkan. Pandangan dunia kita mempengaruhi cara kita melihat dan bertindak di dunia.

Dewasa ini “pertumbuhan ekonomi” sering digunakan sebagai penanda kemajuan dan indikator bahwa standar hidup membaik. Namun, gagasan pertumbuhan ekonomi sering digabungkan dengan pandangan dunia bahwa manusia mendominasi dan mengeksploitasi alam. “Pandangan dunia” ini merupakan inti dari banyak negara berpolusi tinggi, dan banyak yang percaya berakar 400 tahun yang lalu, dalam periode waktu yang dikenal sebagai Revolusi Ilmiah. Para intelektual saat itu menulis tentang bagaimana umat manusia lebih unggul dari alam, dan bagaimana hak manusia untuk mendominasi alam. Ide-ide yang pertama kali menyebar sekitar waktu ini sangat berpengaruh selama berabad-abad berikutnya, dan membantu menginformasikan hukum, teknologi, cara hidup, adat istiadat dan budaya yang masih ada di negara-negara kaya saat ini. Banyak dari cara hidup ini telah diteruskan ke, atau dipaksakan, negara-negara lain di seluruh dunia.

Sejak Revolusi Industri, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menjauhkan orang-orang yang tinggal di negara-negara kaya semakin jauh dari ketergantungan langsung mereka pada alam. Jutaan orang pindah ke kota dan mulai bekerja di pabrik, tempat mereka mengoperasikan mesin, alih-alih membuat barang dengan perkakas tangan dan mengerjakan tanah. Pada periode ini, teknologi baru seperti kereta uap, mobil, dan bola lampu listrik dengan cepat mengubah kehidupan orang – seperti halnya ponsel, komputer pribadi, dan internet telah mengubah kehidupan saat ini dibandingkan dengan 50 tahun yang lalu. Sementara beberapa perubahan teknologi tidak diragukan lagi menguntungkan orang - misalnya melalui pembentukan obat modern - teknologi baru memungkinkan orang untuk mendominasi dan mengekstraksi dari alam dengan cara yang tidak mungkin dilakukan sebelumnya.

Revolusi Industri memungkinkan penambangan bahan bakar fosil dalam skala massal. Pembakaran bahan bakar fosil telah menjadi sumber energi yang dominan selama lebih dari 100 tahun, dan ini telah mendorong pembangunan ekonomi. Akibatnya, negara-negara kaya seperti AS, Inggris, dan negara-negara di UE telah menghasilkan gas rumah kaca dalam jumlah terbesar dari waktu ke waktu . Sekarang, karena negara-negara seperti China dan India mengikuti jalur pembangunan yang sama dengan negara-negara kaya, semakin banyak orang yang bergantung pada pembakaran bahan bakar fosil setiap tahun . Dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat, China saat ini merupakan penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia . Secara historis, AS telah menjadi penghasil emisi terbesar, yang berarti bahwa AS telah mengeluarkan gas rumah kaca paling banyak dari waktu ke waktu . Dalam lima kontributor utama emisi, AS juga memiliki emisi CO2 tertinggi per orang.

Krisis iklim dan ekologi adalah masalah multidimensi, dan tidak mungkin menemukan satu narasi tunggal tentang mengapa ini terjadi, atau mengapa ada kegagalan untuk mengatasinya. Terlebih lagi, sangat sulit bagi orang untuk memahami skala dan implikasi dari krisis iklim dan ekologi, dan ini membatasi kemampuan orang untuk bertindak secara tegas dan mendesak seperti yang diperlukan.

Cara hidup yang merusak alam dan mengeluarkan karbon sangat tertanam dalam masyarakat modern. Ada yang menyebut krisis iklim dan ekologi sebagai “krisis hubungan” antara manusia dan alam. Untuk bertransisi ke masa depan yang lebih berkelanjutan, mereka mengatakan bahwa kita perlu “berdamai” dengan alam dan mengubah sistem ekonomi, keuangan, dan produktif kita sesuai dengan itu . Pada tahun 2021, sekelompok peneliti mengidentifikasi sembilan alasan yang saling terkait atas kegagalan kolektif kita untuk mengatasi krisis iklim selama tiga dekade terakhir. Mereka berpendapat bahwa untuk mengatasi krisis ini secara memadai, ada kebutuhan untuk mempertanyakan banyak pandangan dunia inti di jantung masyarakat industri yang kaya .

Manusia adalah hewan biologis, dan Planet Bumi adalah habitat kita. Bukannya terpisah dari alam, kita sebenarnya adalah bagian dari alam dan bergantung padanya untuk kelangsungan hidup kita . Mikroorganisme di usus kita membantu pencernaan, sementara yang lain menyusun bagian dari kulit kita. Penyerbuk seperti lebah dan tawon membantu menghasilkan makanan yang kita makan, sementara pohon dan tumbuhan menyerap CO2 yang kita keluarkan dan menghasilkan oksigen yang kita perlukan untuk bernapas.

Terlepas dari aksi iklim selama beberapa dekade, masyarakat kaya belum berhasil membayangkan cara hidup yang diinginkan yang tidak terkait dengan bahan bakar fosil, atau bergantung pada pertumbuhan ekonomi sebagai sinyal pembangunan dan kemajuan

Lingkungan yang sehat merupakan prasyarat bagi perekonomian yang berkelanjutan. Sudah menjadi hal yang umum diterima bahwa produksi ekonomi – produk domestik bruto (PDB) – sebagai ukuran pertumbuhan ekonomi harus dilengkapi dengan “kekayaan inklusif” (jumlah modal yang diproduksi, manusia dan alam), yang memperhitungkan kesehatan masyarakat. lingkungan dan merupakan ukuran yang lebih baik apakah kebijakan ekonomi nasional berkelanjutan bagi generasi muda saat ini dan masa depan .

4. Negosiasi internasional

Para pemimpin dunia akan bertemu di Glasgow akhir tahun ini untuk membicarakan perubahan iklim, dan di China untuk membicarakan krisis ekologi. Di bagian ini kita belajar tentang apa tujuan dari negosiasi ini, dan bagaimana pencapaiannya sejauh ini.


A)   Apa yang telah dicapai negosiasi iklim sejauh ini?

Para ilmuwan telah memprediksi perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia selama beberapa dekade. Persatuan Bangsa-bangsa dalam Kerangka Konvensi Perubahan Iklim (The United Nations Framework Convention on Climate Change UNFCCC) ditandatangani di Rio de Janeiro pada tahun 1992, dan Konferensi Para Pihak (Conferences of the Parties/COP) telah diadakan setiap tahun sejak tahun 1995. Tujuan dari konferensi tersebut adalah untuk membahas apa yang harus dilakukan tentang perubahan iklim, dan untuk mengusulkan langkah-langkah yang akan diambil. diambil oleh negara-negara peserta untuk mengatasi perubahan iklim[42].

Pada 2015, para pemimpin dunia bertemu di Paris untuk konferensi COP21. Hasil konferensi tersebut adalah, para pemimpin dunia mencapai kesepakatan (untuk pertama kalinya) tentang aksi skala besar melawan perubahan iklim. Sekitar 196 negara peserta di seluruh dunia sepakat untuk membatasi pemanasan global hingga jauh di bawah 2°C, sebaiknya 1,5°C[43]. Hampir semua negara membuat komitmen atau janji atau kontribusi yang ditentukan secara nasional (nationally determined contribution, NDC) untuk membatasi emisi gas rumah kaca dan menurunkan kontribusi mereka terhadap perubahan iklim. Janji ini diperbaharui setiap lima tahun.


[42] COP UNFCC

[43] UNFCCC Perjanjian Paris

Ada dua tujuan yang terkait dengan pembatasan perubahan iklim dalam Perjanjian Paris:

  1. Batasi pemanasan global hingga maksimum 2°C pada akhir abad ini (2100), dan sebaiknya 1,5°C.
  2. Mencapai emisi nol, bersih pada tahun 2050.


Jika kita mampu mengurangi secara signifikan emisi gas rumah kaca secara global pada tahun 2030, tahap selanjutnya, negara-negara akan mencapai emisi “net-zero” pada tahun 2050. Net zero berarti menghilangkan gas rumah kaca dari atmosfer pada tingkat yang sama dengan emisinya, atau hanya menghilangkan emisi sama sekali[44] . Hal ini dapat dicapai melalui pelepasan karbon dioksida atau 'ditangkap' oleh atmosfer hutan, tanah, dan laut, dan melalui teknologi penangkap karbon (yang belum sepenuhnya dikembangkan).

Beberapa tahun terakhir:

  • Di Cina, emisi CO2 meningkat sebesar 80 persen antara tahun 2005-2018 dan diperkirakan akan terus meningkat untuk dekade berikutnya, mengingat tingkat proyeksi pertumbuhan ekonominya[45].
  • Di UE dan negara anggotanya, sudah berada di jalur yang tepat dalam hal mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 58 persen pada tahun 2030[46] dibandingkan tahun 1990.
  • Emisi di India meningkat sekitar 76 persen antara 2005 - 2017 dan, seperti Cina adalah diperkirakan akan terus meningkat hingga tahun 2030 karena pertumbuhan ekonomi [47].
  • Federasi Rusia, penghasil gas rumah kaca terbesar kelima, mengajukan NDC pertamanya pada tahun 2020 yang bertujuan untuk mengurangi emisi sebesar 30 persen pada tahun 2030[48].
  • AS baru-baru ini berjanji untuk mengurangi emisi sebesar 50-52% pada tahun 2030 dan bisa dibandingkan dengan tahun 2005 (atau ketika emisi mencapai puncaknya)

[44] Glosarium IPCC

[45] Kebenaran Dibalik Ikrar Iklim

[46] Kebenaran Dibalik Ikrar Iklim

[47] Kebenaran Dibalik Ikrar Iklim

[48] UNFCCC Semua NDC

Secara bersama-sama, NDC menentukan apakah dunia akan mencapai tujuan jangka panjang Perjanjian Paris[49]. Jika semua tujuan saat ini mengurangi emisi gas rumah kaca terpenuhi dan kita belum tahu apakah itu akan tercapai, ini menjadi kemungkinan akan menghasilkan setidaknya 3°C pemanasan global  terlepas dari tujuan Perjanjian Paris 2015 untuk membatasi pemanasan hingga jauh di bawah 2°C[50].

Karena NDC saat ini tidak cukup untuk memenuhi tujuan Perjanjian Paris, NDC baru diajukan setiap lima tahun ke PBB. Tujuannya adalah agar setiap negara semakin ambisius dalam mencapai targetnya, berdasarkan tujuan dari Perjanjian Paris. Setiap negara menetapkan tujuan yang berbeda. Misalnya, UE telah berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 55 persen pada tahun 2030[51] dan di Inggris Raya sebesar 78 persen pada tahun 2035[52]. Prancis dan Inggris termasuk di antara negara-negara yang telah mencapai nol bersih pada tahun 2050 sebagai persyaratan hukum. Jepang, Afrika Selatan, Argentina, Meksiko, dan UE semuanya telah mengumumkan tujuan untuk mencapai nol bersih pada tahun 2050[53]. China berjanji untuk mencapai 'emisi puncak' pada tahun 2030[54] sebelum beralih ke nol bersih pada akhir 2060[55].

Sejak Paris, beberapa kemajuan telah dicapai. Namun hal-hal tidak bergerak cukup cepat. Sebuah analisis baru-baru ini oleh PBB menyimpulkan bahwa jika semua NDC harus dipenuhi, itu masih dapat menyebabkan kenaikan suhu sekitar 2,7°C pada akhir abad ini.

Pada tingkat saat ini, pemanasan akan mencapai 1,5°C sekitar tahun 2040 – mungkin lebih awal –dan terus meningkat jika tindakan tidak diambil sekarang. Bukti telah menunjukkan bahwa risiko yang terkait dengan peningkatan suhu global 2°C lebih tinggi daripada yang dipahami sebelumnya .

Sejak COP21, dua laporan dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) pada tahun 2018 dan 2021 telah menekankan bahwa perbedaan antara pemanasan 1,5°C dan 2°C akan menyebabkan hilangnya nyawa dan mata pencaharian bagi jutaan orang. , dengan konsekuensi merugikan yang lebih besar untuk tingkat pemanasan yang lebih tinggi.


[49] UNFCCC Kontribusi yang Ditentukan Secara Nasional (NDC)

[50] Lenton. Poin Tipping Iklim terlalu Berisiko untuk Dipertaruhkan

[51] Kerangka Kerja Iklim & Energi UE 2030

[52] Inggris menetapkan target baru dalam undang-undang untuk memangkas emisi sebesar 78% pada tahun 2035

[53] Laporan Kesenjangan Emisi PBB 2020 - Ringkasan Eksekutif

[54] China tetap berpegang pada tujuan untuk mencapai puncak emisi karbon pada tahun 2030

[55] Laporan Kesenjangan Emisi PBB 2020 - Ringkasan Eksekutif

Penelitian telah menunjukkan bagaimana perusahaan bahan bakar fosil telah melobi untuk melemahkan kebijakan iklim di seluruh dunia dan terus melakukannya sambil mengklaim mendukung Perjanjian Paris. Lobi politik oleh kepentingan bahan bakar fosil juga menjelaskan mengapa Perjanjian Paris tidak menyebutkan secara eksplisit dekarbonisasi atau pengurangan penggunaan bahan bakar fosil, meskipun ada bukti ilmiah bahwa mempertahankan pemanasan pada 1,5–2°C mengharuskan sebagian besar bahan bakar fosil tetap berada di dalam tanah[56]

Terlebih lagi, banyak negara pengekspor bahan bakar fosil telah menghalangi proses pengambilan keputusan dengan menunda negosiasi, memperburuk ketegangan politik dan menghindari referensi apapun ke bahan bakar fosil sebagai penyebab utama perubahan iklim. Negara-negara yang kaya akan cadangan bahan bakar fosil, seperti Arab Saudi, AS, Kuwait, dan Rusia, sangat terkenal karena menghalangi negosiasi dan memperdebatkan sains tentang perubahan iklim.

Negara-negara kaya telah gagal memimpin secara tegas dalam mengatasi perubahan iklim, baik dalam mencapai pengurangan emisi yang signifikan maupun dalam menyediakan pendanaan yang memadai dan dapat diprediksi. Kegagalan dari negara-negara terkaya untuk memimpin dengan baik dalam masalah ini telah menciptakan ketidakpercayaan, memungkinkan kelompok-kelompok kepentingan seperti industri bahan bakar fosil untuk mendapatkan pijakan di beberapa negara berkembang dan dengan demikian lebih lanjut menanamkan pembangunan tinggi karbon, daripada alternatif rendah karbon.

Kurangnya tindakan cepat dan tegas terhadap perubahan iklim akan menghasilkan biaya keuangan yang signifikan bagi pemerintah di seluruh dunia. Ada perkiraan bahwa cuaca ekstrem sebagai akibat dari perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia dapat menelan biaya $2 miliar per hari pada tahun 2030. Selain biaya, peristiwa dan pola cuaca akan terus berubah, dan akan berdampak buruk pada kesehatan manusia, mata pencaharian, makanan, air, keanekaragaman hayati dan pertumbuhan ekonomi.

    B) Apa yang telah dicapai oleh negosiasi keanekaragaman hayati sejauh ini?

Keanekaragaman hayati memiliki nilai ekonomi, biologis dan sosial yang penting, tetapi untuk waktu yang lama hanya nilai ekonomis telah dipertimbangkan.


Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD) dibuka untuk ditandatangani di Rio De Janeiro pada tahun 1993. Konvensi tersebut mengakui untuk pertama kalinya dalam hukum internasional bahwa konservasi keanekaragaman hayati adalah “kepedulian bersama bagi umat manusia. Kesepakatan tersebut mencakup ekosistem, spesies dan sumber daya genetik, seperti benih.

Pada tahun 2010, para pihak dalam Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD) mengadopsi Rencana Strategis untuk Keanekaragaman Hayati 2011–2020, kerangka kerja sepuluh tahun untuk tindakan oleh semua negara untuk melindungi keanekaragaman hayati dan manfaat yang diberikannya kepada manusia. Sebagai bagian dari rencana strategis, 20 target ambisius namun realistis, yang dikenal sebagai Target Keanekaragaman Hayati Aichi, diadopsi.

Namun, tidak satu pun dari Target Keanekaragaman Hayati Aichi yang sepenuhnya terpenuhi pada batas waktu target 2020, dan analisis menunjukkan bahwa ada kemajuan sedang atau buruk untuk sebagian besar target yang ditujukan untuk mengatasi penyebab hilangnya keanekaragaman hayati. Akibatnya, keadaan keanekaragaman hayati terus menurun.

Pada tahun 2021, Konferensi Para Pihak ke-15 pada Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD COP15) akan dimulai di Kunming, Cina, dan selesai pada tahun 2022, untuk menyepakati kerangka kerja baru untuk keanekaragaman hayati, dengan serangkaian tujuan dan target.

Selain Konvensi Keanekaragaman Hayati ada lima konvensi terkait keanekaragaman hayati lainnya, termasuk Ramsar Convention on Wetlands, Convention of Migratory Species of Wild Animals (CMS), Convention on Trade in Endangered Species (CITES), International Treaty on Plant Genetic Resources for Food and Agriculture, dan World Heritage Convention (WHC). Terlepas dari banyaknya konferensi internasional tentang hilangnya keanekaragaman hayati, tidak ada satu pun tujuan dalam perjanjian internasional yang sepenuhnya tercapai. Di enam perjanjian internasional untuk memperlambat atau membalikkan hilangnya keanekaragaman hayati, hanya satu dari lima tujuan dan sasaran strategis yang akan dicapai.

Sangat penting bagi pemerintah untuk mulai mengenali interaksi antara dua masalah perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati, dan mengembangkan tujuan, target, dan tindakan yang saling kompatibel.

5. Apa dampak perubahan iklim dan krisis ekologis terhadap…

Pada bagian ini kita melihat secara luas skala dan dampak perubahan iklim dan krisis ekologis terhadap kesehatan dan mata pencaharian manusia, ekosistem dan keanekaragaman hayati di kawasan di seluruh dunia. Efek ini akan lebih atau kurang parah tergantung pada tingkat tindakan yang diambil sekarang.

… kesehatan dan penghidupan manusia?

Perubahan iklim merusak kesehatan manusia. Ini meningkatkan stres terkait iklim dan mengarah pada risiko cedera, penyakit, kematian dan malnutrisi karena cuaca ekstrim seperti kekeringan, angin topan dan banjir. Risiko ini meningkat dengan meningkatnya pemanasan

Perubahan iklim berdampak pada pertumbuhan ekonomi di semua wilayah. Negara-negara di daerah tropis dan subtropis Belahan Selatan diperkirakan akan mengalami dampak terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi akibat perubahan iklim jika pemanasan global meningkat dari 1,5 menjadi 2°C. , dan bahkan lebih banyak lagi dengan tingkat pemanasan yang lebih tinggi.

Pandemi dapat diminimalisir dengan menggunakan pendekatan “satu kesehatan”. Penyakit yang menular dari hewan ke manusia, seperti Covid-19, dapat dicegah dengan membatasi interaksi manusia-satwa dan ternak-satwa liar. Dalam pendekatan “satu kesehatan”, para profesional dengan berbagai pengalaman dan keahlian – seperti kesehatan masyarakat, kesehatan hewan, kesehatan tanaman, dan lingkungan – bergabung untuk mencapai hasil kesehatan masyarakat yang lebih baik. Pendekatan “satu kesehatan” dapat digunakan untuk mencegah bencana kesehatan manusia seperti Covid-19.

Menghentikan dan membalikkan degradasi ekosistem, seperti penggundulan hutan, akan melindungi tanaman yang berharga untuk penelitian medis dan juga mengurangi risiko pandemi penyakit zoonosis.

Perubahan iklim berdampak pada pertumbuhan ekonomi di semua wilayah. Negara-negara di daerah tropis dan subtropis Belahan Selatan diperkirakan akan mengalami dampak terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi akibat perubahan iklim jika pemanasan global meningkat dari 1,5 menjadi 2°C, dan bahkan lebih banyak lagi dengan tingkat pemanasan yang lebih tinggi.


Banyak orang di seluruh dunia tinggal di daerah yang, pada tahun 2015, telah mengalami pemanasan lebih dari 1,5°C setidaknya selama satu musim. Dampak perubahan iklim jatuh secara tidak proporsional pada yang termiskin dan paling rentan. Membatasi pemanasan global hingga 1,5°C, dibandingkan dengan 2°C, dapat mengurangi jumlah orang yang terpapar risiko terkait iklim hingga beberapa ratus juta pada tahun 2050.  

Kami semakin melihat bukti migrasi yang disebabkan oleh perubahan iklim. Menurut Badan Pengungsi PBB, pengungsi, pengungsi internal (IDP) dan orang tanpa kewarganegaraan berada di garis depan krisis iklim. Banyak yang tinggal di "titik panas" iklim, di mana mereka biasanya kekurangan sumber daya untuk beradaptasi dengan lingkungan yang semakin tidak bersahabat. Bahaya akibat meningkatnya intensitas dan frekuensi kejadian cuaca ekstrem, seperti curah hujan yang luar biasa deras, kekeringan berkepanjangan, penggurunan, degradasi lingkungan, atau kenaikan permukaan laut dan angin topan telah menyebabkan rata-rata lebih dari 20 juta orang meninggalkan rumah mereka dan pindah ke daerah lain di negara mereka, atau meninggalkan negara mereka sama sekali, setiap tahun

Pada akhir tahun 2020, sekitar tujuh juta orang di 104 negara dan wilayah hidup dalam pengungsian akibat bencana yang terjadi tidak hanya pada tahun 2019, tetapi juga pada tahun-tahun sebelumnya. Lima negara teratas dengan jumlah pengungsi akibat bencana tertinggi adalah Afghanistan (1,1 juta); India (929.000); Pakistan (806.000); Ethiopia (633.000), dan Sudan (454.000) Pada tahun 2017, sekitar 1,5 juta orang Amerika AS bermigrasi karena bencana alam, sementara atau permanen, ke bagian lain negara itu

… Ketersediaan pangan?

Ketersediaan pangan berarti bahwa semua orang, setiap saat, memiliki akses fisik, sosial, dan ekonomi terhadap pangan yang cukup, aman, dan bergizi yang memenuhi preferensi pangan dan kebutuhan pangannya untuk hidup aktif dan sehat.

Ketersediaan pangan terancam oleh hilangnya penyerbuk dan tanah subur sebagai akibat dari krisis ekologi, dan kemampuan bumi untuk mempertahankan kebutuhan yang terus meningkat akan makanan bergizi akan terus melemah dalam menghadapi penurunan lingkungan yang berkelanjutan.

Perubahan iklim telah mempengaruhi ketahanan pangan karena pemanasan, perubahan pola hujan dan frekuensi cuaca ekstrem yang lebih besar. Perubahan cuaca berarti bahwa dalam beberapa tahun terakhir hasil panen menurun di beberapa daerah, dan meningkat di daerah lain. Perubahan iklim mempengaruhi ketahanan pangan di lahan kering, terutama di Afrika, dan daerah pegunungan tinggi di Asia dan Amerika Selatan.

Efek perubahan iklim akan mempengaruhi resiko lain serta faktor sosial dan politik lainnya. Salah satu contohnya seperti di bagian dari Afrika Barat. Di Sahel, desertifikasi berarti penggembala akan bermigrasi ke selatan dengan ternaknya mencari padang rumput. Hal ini berujung pada peningkatan pertikaian antara penggembala dan petani di selatan, yang ladang dan kebunnya dirusak dan dikonsumsi oleh ternak penggembala nomaden yang melewatinya. Konsekuensinya ladang dan kebun banyak ditinggalkan karena ketakutan kekerasan tersebut, menyebabkan kekurangan bahan makanan dan mengancam keamanan cadangan makanan.

Reduksi ketersediaan makanan diperkirakan lebih signifikan di 2°C dibandingkan 1.5°C,dan akan semakin parah dengan pertambahan perubahan temperatur, terutama seperti di Sahel, Afrika Selatan, Mediterania, Eropa Tengah dan Amazon dengan hasil jagung, beras, gandum dan tanaman sereal lainnya yang lebih kecil, terutama di sub-sahara Afrika, Asia Tenggara serta Amerika Tengah dan Selatan.

Produksi tanaman dan ternak diperkirakan untuk menurun dan mungkin akan ditinggalkan di beberapa bagian di wilayah Eropa Selatan dan Mediterania karena meningkatnya pengaruh buruk perubahan iklim.

Dengan meningkatnya temperatur, diperkirakan ternak akan dipengaruhi, tergantung pada luasnya perubahan ketersediaan makanan hewan, penyebaran penyakit dan ketersediaan sumber air. Ada juga bukti kalau perubahan iklim mengakibatkan perubahan pada hama dan penyakit agrikultur.

Resiko perubahan iklim pada keamanan dan akses makanan diperkirakan tinggi pada pemanasan diantara 1.2-3.5°C, sangat tinggi di antara 3-4°C dan berdampak bencana diatas 4°C. Meningkatnya konsentrasi CO2  diekspektasikan menurunkan kandungan protein dan nutrisi dari sebagian besar tanaman sereal, yang akan lebih jauh menurunkan keamanan nutrisi makanan.

… Keamanan Sumber Air?

Keamanan sumber air diukur dari ketersediaan air, permintaan pasokan air dan kualitas (tingkat polusi) dari sumber air.

Tekanan pada ekosistem sebagai hasil dari krisis lingkungan menyebabkan penurunan atau degradasi dari sumber air bersih.

Sekitar 80% dari populasi dunia sudah mengalami dampak dari ancaman serius dari keamanan air. Jelas kalau perubahan iklim mempengaruhi ketersediaan air dan mengancam keamanan air  akibat perubahan pola hujan. Secara umum, hujan meningkat di wilayah tropis dan dataran tinggi, dan berkurang di daerah sub-tropis akibat perubahan iklim. Di tahun 2017, sekitar 2,2 miliar populasi penduduk tidak memiliki akses sumber air minum yang aman. Lebih dari 2 miliar penduduk secara global yang tinggal di daerah aliran sungai yang menderita kekurangan air, di mana kebutuhan akan air tawar melebihi 40 persen dari yang tersedia. Di beberapa negara di Afrika dan Asia, kebutuhan air tawar yang tersedia melebihi 70 persen.

Kurangnya akses ke air bersih juga merupakan masalah ketersediaan pangan, karena penggunaan utama air tawar di seluruh dunia adalah untuk pengairan tumbuhan (irigasi), pada saat ini merupakan 70 persen dari total pengambilan air tawar. Sekitar 1,2 miliar orang tinggal di daerah di mana kekurangan air yang parah dan kelangkaan menantang pertanian.

Selama satu abad terakhir, pertumbuhan penduduk, kegiatan industri dan pertanian, serta standar hidup telah menciptakan lebih banyak permintaan akan air di seluruh dunia.

Daerah resapan kian hilang secara global, dimana mengancam kualitas air pada banyak wilayah di dunia.

… Keanekaragaman hayati dan ekosistem berbasis lahan?

Ekosistem adalah sistem pendukung kehidupan planet ini, untuk spesies manusia dan semua bentuk kehidupan lainnya. Selama beberapa dekade terakhir, manusia telah mengubah ekosistem alam dengan cepat dan ekstensif. Transformasi planet ini telah menghasilkan manfaat bagi kesejahteraan manusia (misalnya, peningkatan umur) dan pembangunan ekonomi, tetapi tidak semua wilayah dan kelompok orang memperoleh manfaat dari proses ini, dan banyak yang dirugikan. Biaya penuh dari keuntungan ini baru saja terlihat. Kemajuan ekonomi, sosial dan teknologi telah mengorbankan kemampuan bumi untuk mempertahankan kesejahteraan manusia saat ini dan masa depan.

Seperti yang telah kita bahas di bagian dua, spesies saat ini mengalami kepunahan puluhan hingga ratusan kali lebih cepat daripada tingkat kepunahan normal. Perubahan iklim meningkatkan risiko beberapa spesies menjadi punah, dengan 20 hingga 30 persen spesies tumbuhan dan hewan berisiko lebih besar punah di bawah pemanasan 2°C, dan bahkan jumlah yang lebih tinggi dengan pemanasan yang lebih besar. Diperkirakan lebih dari setengah juta spesies memiliki habitat yang tidak mencukupi untuk kelangsungan hidup jangka panjang mereka, dan berkomitmen untuk kepunahan dini, banyak dalam beberapa dekade, kecuali habitat mereka dipulihkan.

Diperkirakan bahwa pada pemanasan 2°C, 13 persen ekosistem akan berubah dari satu sudut pandang ekosistem ke sudut pandang ekosistem lainnya — misalnya dari hutan hujan menjadi ekosistem sabana.

Ada keyakinan yang tinggi bahwa kenaikan suhu global akan mengakibatkan pergeseran zona iklim, dengan terciptanya iklim baru yang panas di daerah tropis, musim cuaca kebakaran yang lebih lama, dan peningkatan risiko kebakaran di daerah yang rawan kekeringan.

Pada tahun 2020, kurang dari seperempat permukaan tanah global masih berfungsi hampir secara alami, dengan keanekaragaman hayati yang sebagian besar masih utuh. Kuartal ini sebagian besar terletak di daerah kering, dingin, atau pegunungan, dan sejauh ini memiliki populasi manusia yang rendah dan telah mengalami sedikit transformasi.

… laut dan kehidupan laut?

Laut adalah rumah bagi keanekaragaman hayati mulai dari mikroba hingga mamalia laut, dan berbagai ekosistem. Dua pertiga lautan sekarang dipengaruhi oleh manusia. Kegiatan manusia yang merugikan termasuk penangkapan ikan yang berlebihan, infrastruktur dan pengiriman pesisir dan lepas pantai, pengasaman laut dan limpasan limbah dan nutrisi. Sepertiga dari stok ikan laut liar dipanen secara berlebihan pada tahun 2015, dan penipisan stok ikan karena penangkapan yang berlebihan merupakan resiko besar bagi ketahanan pangan. Pupuk yang memasuki ekosistem pesisir telah menghasilkan lebih dari 400 “zona mati” dengan total luas lebih dari 245.000 km2 – wilayah yang lebih besar dari Ekuador atau Inggris. Pada tahun 2021, kebocoran di pabrik pupuk yang ditinggalkan di Florida menyebabkan “mekarnya alga” yang mengakibatkan kematian berton-ton kehidupan laut.

Polusi plastik di lautan telah meningkat sepuluh kali lipat sejak tahun 1980, merupakan 60-80 persen dari sampah yang ditemukan di lautan. Plastik dapat ditemukan di semua lautan di semua kedalaman dan terkonsentrasi di arus laut. Sampah plastik laut menyebabkan dampak ekologis termasuk terjerat dan tertelan oleh kehidupan laut dan hewan. Risiko hilangnya ekosistem laut dan pesisir yang tidak dapat dipulihkan, termasuk padang lamun dan hutan rumput laut, meningkat seiring dengan pemanasan global.

Saat ini, lautan di Bumi menyerap 30 persen emisi CO2 global dan hampir semua kelebihan panas di atmosfer, yang menyebabkan pemanasan suhu laut. Sejak 1993, tingkat pemanasan laut meningkat lebih dari dua kali lipat, yang mengakibatkan rusaknya terumbu karang dan punahnya beberapa kehidupan laut. Terumbu karang sangat rentan terhadap perubahan iklim dan diproyeksikan menurun hingga 10 hingga 30 persen dari tutupan sebelumnya pada pemanasan 1,5°C, dan menjadi kurang dari satu persen dari tutupan sebelumnya pada pemanasan 2°C (yaitu, 99 persen terumbu karang akan hilang pada pemanasan 2°C). Akumulasi panas di lautan akan bertahan selama berabad-abad dan mempengaruhi banyak generasi mendatang.

Sekitar 40 persen dari populasi global tinggal dalam jarak 100 km (60 mil) dari pantai. Sekitar 10 persen penduduk dunia tinggal di daerah pesisir yang berada kurang dari 10 meter di atas permukaan laut. Sebagai akibat dari perubahan iklim, permukaan laut naik, lautan memanas dan air laut menjadi lebih asam karena asupan karbon dioksida. Bahkan jika pemanasan dipertahankan jauh di bawah 2°C, ada keyakinan tinggi bahwa masyarakat di semua wilayah di dunia – terutama masyarakat pesisir – masih harus beradaptasi dengan perubahan di lautan dunia ini.

Sebagai akibat dari pemanasan suhu laut, banyak spesies laut telah mengubah perilaku dan lokasi mereka, membawa mereka ke dalam kontak dengan spesies yang berbeda, menyebabkan gangguan ekosistem dan meningkatkan risiko penyebaran penyakit.

Banyak perubahan akibat emisi gas rumah kaca di masa lalu dan masa depan yang tidak dapat diubah selama berabad-abad untuk ribuan tahun, terutama perubahan sirkulasi laut, lapisan es dan permukaan laut global.

Daftar istilah

Adaptasi: Untuk merubah, menyesuaikan atau peningkatan sesuatu untuk lebih sesuai dengan kondisi yang berbeda

batas Karbon: Batas maksimal jumlah produksi karbon pada periode waktu tertentu oleh suatu negara, perusahaan, atau organisasi yang telah disetujui

Karbon Dioksida (CO2): Karbon Dioksida adalah gas yang terdiri dari molekul karbon dan Oksigen.

Konferensi Para Pihak: Organisasi pembuat keputusan yang bertanggung jawab untuk memonitor dan meninjau implementasi dari Konvensi PBB mengenai perubahan iklim.

Dekarbonisasi: Reduksi emisi karbon dioksida melalui penggunaan sumber tenaga rendah karbon yang berarti penurunan emisi gas rumah kaca ke atmosfer.

Pertumbuhan Ekonomi: Peningkatan ekonomi pada sektor produksi dan jasa pada pasar ekonomi (Sebagai contoh, ekonomi negara). Pertumbuhan ekonomi diukur dari penghasilan kotor suatu negara.

Ekuitas: “Pertanggung jawaban umum yang dibedakan” adalah prinsip hukum lingkungan internasional yang menyatakan setiap negara bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan namun tidak setara.

Eksploitasi: Menggunakan seseorang atau sesuatu untuk kepentingan pribadi tanpa rasa peduli terhadap hal yang dieksploitasi.

Kepunahan: Suatu titik dimana suatu organisme, biasanya spesies menjadi punah. Kepunahan terjadi disaat individual terakhir dari suatu spesies mati.

Pendapatan Kotor: Nilai standar diukur penambahan nilai yang diciptakan melalui produksi barang dan jasa dalam kurun waktu tertentu pada suatu negara.

Lapisan es Greenland : Merupakan bagian utama yang menutupi 1,710,000 kilometer kuadrat, sekitar 79% permukaan Greenland. Itu adalah lapisan es terbesar kedua setelah lapisan es Antarctic.

Gas Rumah kaca: Enam jenis gas rumah kaca yang dibahas oleh Konvensi PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) dan Protokol Kyoto adalah: karbon dioksida, metana, nitrous oxide, hydrofluorocarbons, perfluorocarbons dan sulfur hexafluoride

Masyarakat adat: Definisi resmi “pribumi” belum diadopsi oleh badan sistem PBB mana pun. Menurut definisi umum, bagaimanapun, masyarakat adat adalah keturunan mereka yang mendiami suatu negara atau wilayah geografis pada saat orang-orang dari budaya atau asal etnis yang berbeda tiba. Pendatang baru kemudian menjadi dominan melalui penjajahan, kependudukan, pemukiman atau cara lain. Diperkirakan ada lebih dari 370 juta penduduk asli yang tersebar di 70 negara di seluruh dunia

Revolusi Industri: Dalam sejarah modern, Revolusi Industri adalah proses perubahan dari ekonomi yang berbasis pertanian dan kerajinan, menjadi ekonomi yang didominasi oleh industri dan manufaktur mesin, selama abad ke-18 dan ke-19.

Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC): Badan antar pemerintah Perserikatan Bangsa-Bangsa yang memberikan informasi ilmiah yang objektif tentang perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia, dampak dan risiko alam, politik, dan ekonomi, dan opsi tanggapan yang memungkinkan.

Karbon rendah: Menyebabkan atau menghasilkan hanya pelepasan karbon dioksida yang relatif kecil ke atmosfer.

Low carbon: Causing or resulting in only a relatively small net release of carbon dioxide into the atmosphere.

Pengurangan: Tindakan mengurangi keparahan, keseriusan, atau rasa sakit dari sesuatu.

Kontribusi yang ditentukan secara nasional: Kontribusi yang ditentukan secara nasional (INDC) adalah pengurangan emisi gas rumah kaca yang dimaksudkan di bawah Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC).

Emisi negatif: Emisi negatif adalah salah satu istilah yang digunakan untuk kegiatan yang menghilangkan karbon dioksida dari atmosfer.

Polusi: Kehadiran atau masuknya ke dalam lingkungan suatu zat yang memiliki efek berbahaya atau beracun. Polusi dapat diciptakan oleh aktivitas manusia, misalnya sampah di lautan atau limpasan bahan kimia dari pertanian.

Revolusi Ilmiah: Perubahan pemikiran yang terjadi selama abad ke-16 dan ke-17. Selama ini, sains menjadi disiplin tersendiri, berbeda dari filsafat dan teknologi.

Pada bagian yang terakhir, ilmu pengetahuan telah membangun budaya sebagai titik pusat peradaban Eropa.

Konversi temperatur: Celsius (°C) ke Fahrenheit (°F):

1.0°C = 1.8°F

1.2°C = 2.6°F

1.5°C = 2.7°F

2°C = 3.6°F

2.5°C = 4.4°F

3°C = 5.4°F

3.5°C = 6.2°F

4°C = 7.2°F

4.5°C = 8.1°F

5°C = 8.8°F

6°C = 10.8°F

MediaWiki spam blocked by CleanTalk.